Channel Youtube Harie.id PodcastTonton

Ribuan Santri Padati Musara Alun Takengon, Upaya Cegah Kekerasan di Dayah Jadi Topik Utama

Arinos
Ribuan santri saat mengikuti Upacara Hari Santri Nasional Ke-11 Tahun 2026 di Lapangan Musara Alun Takengon (Foto. Harie)

TAKENGON | HARIE.ID — Ribuan santri mengikuti upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-11 Tahun 2026 di Lapangan Musara Alun, Takengon, Aceh Tengah, Kamis 22 Oktober 2026.

Upacara itu dipimpin langsung Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, ia turut membacakan sambutan Menteri Agama Republik Indonesia.

Peringatan tahun menyuarakan peran santri dalam pembangunan bangsa, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan dayah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan maupun kekerasan.

Dalam sambutan yang dibacakannya, Haili Yoga mengajak para santri menjadikan Hari Santri bukan hanya sekadar seremoni tahunan, melainkan memperkuat disiplin, akhlak, ilmu pengetahuan, dan kontribusi bagi masyarakat.

Menurutnya, santri memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai keislaman, merawat persatuan, serta mempersiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman.

“Santri harus mampu menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa. Kemajuan daerah dan negara membutuhkan generasi yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan luas, keterampilan, dan karakter yang baik,” begitu kata Haili Yoga ditengah membacakan Sambutan Menteri Agama, Nasaruddin Umar.

Haili juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuh kembang santri.

Menurutnya, pendidikan agama harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap hak, keselamatan, dan martabat setiap peserta didik.

“Dayah harus menjadi tempat yang aman untuk menuntut ilmu, membentuk akhlak, dan mengembangkan potensi. Tidak boleh ada ruang bagi perundungan maupun kekerasan yang dapat merusak masa depan santri,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Tengah, Azhari, menyampaikan, pihaknya telah melakukan langkah-langkah pencegahan dengan mendatangi sejumlah dayah untuk mensosialisasikan pentingnya perlindungan santri dari perundungan (bullying) dan berbagai bentuk kekerasan.

Sosialisasi tersebut mencakup pencegahan kekerasan fisik, psikis, hingga kekerasan seksual di lingkungan pendidikan dayah.

Azhari menegaskan, upaya perlindungan santri tidak cukup hanya melalui imbauan, tetapi perlu didukung kesadaran bersama, pengawasan yang baik, serta keberanian untuk melaporkan apabila ditemukan dugaan kekerasan.

“Santri datang ke dayah untuk menuntut ilmu, memperdalam agama, dan membentuk akhlak. Karena itu, mereka harus mendapatkan perlindungan dan merasa aman selama menjalani pendidikan. Pencegahan perundungan dan segala bentuk kekerasan merupakan tanggung jawab bersama,” tegas Azhari.

Ia juga mendorong pengelola dayah, tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat untuk membangun komunikasi serta kepedulian terhadap kondisi santri.

Menurutnya, penanganan yang tepat terhadap dugaan kekerasan penting dilakukan agar persoalan tidak dibiarkan berlarut-larut dan tidak menimbulkan dampak lebih luas bagi korban maupun lingkungan pendidikan.

“Jangan menganggap perundungan sebagai hal biasa atau sekadar bagian dari proses mendidik. Setiap bentuk kekerasan harus menjadi perhatian serius. Kita ingin dayah menjadi ruang pendidikan yang menjunjung tinggi adab, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama,” ujarnya.

Diketahui, Hari Santri Nasional 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.

Laporan | Karmiadi

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Tulis Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan.