ADVERTISEMENT

Ulak Bango

Ulak Bango, Sindiran Halus Masyarakat Gayo untuk yang Pergi Gagah Pulang Pasrah

Di dataran tinggi Gayo, ada satu kalimat yang terdengar sederhana, tapi makna sosial nya sangat tinggi, “Ulak Bango.”

Dalam percakapan sehari-hari, istilah ini kerap muncul sebagai ungkapan kecewa, sindiran halus, hingga bahan guyonan yang menohok.

Secara harfiah, “Ulak Bango” berarti burung bangau pulang. Namun dalam pemaknaan nya, kalimat ini jauh melampaui arti seekor burung yang kembali ke sarang.

BACA JUGA

Tapi kontek nya tentang seseorang yang pergi dengan penuh harapan, tetapi kembali dengan tangan kosong.

Kiasan ini lahir dari pengamatan masyarakat terhadap perilaku burung bangau.

Sejak pagi, burung itu terbang jauh melintasi sawah, rawa, Sungai dan tepian Danau, demi mencari makan.

Kalau mau melihat bagaimana perilaku burung Bangau, lihat dan amati di tepian Danau, tepat nya di Dedalu, Lukup Penalam.

Kakinya panjang, paruhnya tajam, terbang nya gagah, bulunya berkilau, langkahnya serius seperti pejabat yang turun sidak.

Namun ketika sore tiba dan matahari mulai terbenam, bangau itu kembali tanpa membawa apa-apa.

Dari situlah masyarakat Gayo melahirkan istilah sosial yang halus tetapi sindiran nya sangat tajam.

Seseorang yang seharian keluar rumah mengaku “urus proyek”, “rapat penting”, atau “melobi sana-sini”, tampilan nya gagah, sisir rambut nya rapi (Sebeng e Lemus), pakai hand body, parpum wangi, tetapi malamnya tetap pulang dengan dompet tipis, sering disambut tawa, “Ulak Bango Geh.”

Kalau disederhanakan pergi gagah, pulang pasrah.

Ungkapan ini juga kerap kali dipakai untuk menggambarkan orang yang terlalu banyak gaya dibanding hasil.

Berangkat pagi wajah penuh percaya diri seperti calon Bupati, pulang sore hanya membawa debu jalan dan cerita panjang.

Bahkan dalam suasana warung kopi, istilah ini sering menjadi bahan sindiran menggelitik.

Hana buet ketua?” (apa kerja ketua-red) tanya seorang kawan.

“Kerja lah, dari pagi keliling melobi, ada jumpa kadis, tadi jumpa juga sama Bupati, o ia tadi bertemu sama CEO tambang kami.”

“Hasil?”

“Ya gitulah…”

“Ulak Bango boh” Satu meja langsung tertawa.

Kadang, seseorang sangat menguasai materi di warung kopi, biar di akui hebat, penuh filosofi, satu harapan ingin dipuji, hilang ketika mau bayar kopi. Memang tuhan telah mengatur tentang Rejeki. upaya sang hamba hanya berusaha tidak berdiam diri.

Yang menarik, “Ulak Bango” tidak hanya sebagai ejekan. Tapi lawak kritik khas yang disampaikan dengan cara lembut, jenaka.

Ada pesan agar seseorang tidak hanya pandai bergerak, tetapi juga mampu membawa hasil. Jika terlalu sering “Ulak Bango” bisa menjadi pertanda hidup lebih sibuk pencitraan daripada perjuangan.

Kiasan bangau sendiri terasa sangat pas. Burung ini terlihat anggun saat terbang, tenang saat berdiri, bahkan tampak meyakinkan seperti sudah menguasai keadaan.

Tetapi kadang, penampilannya tidak sebanding dengan hasil buruannya.

Keluar rumah membawa map tebal, berbicara penuh istilah asing, memegang dua telepon genggam, sesekali mengunggah status “Pejabat Bengkep”.

Namun saat ditanya pencapaian, jawabannya lebih banyak angin daripada isi.

Perginya seperti investor besar, pulangnya seperti lupa isi dompet. Di situlah “Ulak Bango” hidup dan terus relevan.

Harus diingat, ukuran bukan seberapa jauh seseorang terbang, tetapi apa yang berhasil dibawa pulang.

Karena kita paham, bangau yang setiap hari pulang tanpa hasil lama-lama bukan lagi dikasihani, melainkan dijadikan perumpamaan dan dijadikan Kecap.

| REDAKSI

BERITA TERKAIT