ADVERTISEMENT

Tangis dan Doa Iringi Penyerahan 320 Santri Baru di Dayah Al Azhar Paya Jeget

Picture of Karmiadi Arinos

Karmiadi Arinos

Prosesi penyerahan anak kepada tengku guru (Photo/Ist)

ACEH TENGAH | HARIE.ID – Tangis haru, doa, dan keikhlasan menyatu dalam prosesi penyerahan 320 santri baru Tahun Ajaran 2026/2027 di Dayah Al Azhar Paya Jeget, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, Minggu 05 Juli 2026.

Ratusan orang tua secara resmi menyerahkan putra-putri mereka kepada para tengku guru untuk menempuh pendidikan agama dan mendalami tafaqquh fid-din.

Prosesi yang menjadi tradisi pendidikan dayah di Aceh Tengah itu berlangsung khidmat.

BACA JUGA

Bagi setiap keluarga, momen tersebut bukan sekadar mengantar anak ke pesantren, tetapi menitipkan amanah terbesar kepada para guru agar dibimbing menjadi generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, dan istiqamah dalam mengamalkan ajaran Islam.

Perwakilan wali santri menyampaikan, keputusan memasukkan anak ke dayah merupakan wujud ikhtiar sekaligus kepercayaan penuh kepada para pendidik.

“Hari ini, dengan penuh keikhlasan, kami menyerahkan anak-anak kami kepada Tengku Guru di Dayah Al Azhar Paya Jeget. Kami memohon agar mereka dibimbing, dididik, diarahkan, bahkan ditegur apabila melakukan kesalahan. Kami yakin di tempat inilah mereka akan belajar hidup mandiri, memperbaiki akhlak, serta menimba ilmu agama dari kitab-kitab muktabarah,” katanya.

Suasana emosional begitu terasa ketika para orang tua harus berpisah dengan anak-anak mereka.

Air mata mengalir menjadi simbol doa dan harapan agar mereka kelak kembali sebagai pribadi yang saleh, berilmu, beradab, serta memberi manfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pimpinan Dayah Al Azhar Paya Jeget, Abu Khairul Basari, S.Pd., M.A., menegaskan, amanah mendidik para santri merupakan tanggung jawab besar yang hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi erat antara dayah dan keluarga.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses belajar di lingkungan dayah, tetapi juga oleh doa, keikhlasan, dukungan, dan rida kedua orang tua.

“Keberhasilan pendidikan adalah hasil dari sinergi antara guru dan orang tua. Kami berharap seluruh proses pendidikan ini memperoleh keberkahan dari Allah SWT sehingga melahirkan generasi yang berilmu sekaligus berakhlak mulia,” ujarnya.

Dayah Al Azhar Paya Jeget selama ini dikenal mengembangkan sistem pendidikan yang memadukan pembelajaran salafiyah melalui pengkajian kitab-kitab turats atau kitab kuning dengan pendekatan pendidikan modern.

Model tersebut menjadi ikhtiar untuk membentuk santri yang memiliki kedalaman ilmu agama, wawasan yang luas, serta mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.

Ketua Panitia Penerimaan Santri Baru, Tgk. Musa Ibrahim, S.Pd., mengungkapkan, pada Tahun Ajaran 2026/2027, Dayah Al Azhar menerima sebanyak 320 santri baru dari jenjang SMP dan SMA.

“Alhamdulillah, tahun ini Dayah Al Azhar menerima 320 santri baru. Kepercayaan masyarakat ini menjadi amanah besar yang akan kami jalankan dengan penuh tanggung jawab,” katanya.

Ia menambahkan, seluruh tengku guru berkomitmen mendampingi para santri selama 24 jam melalui pembinaan yang berkelanjutan guna membentuk karakter disiplin, mandiri, cinta Al-Qur’an, serta memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu.

Prosesi penyerahan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin para ulama. Momen paling mengharukan terjadi saat para santri bersalaman, mencium tangan, dan memohon restu kepada kedua orang tua sebelum memasuki asrama sebagai awal perjalanan mereka menuntut ilmu.

Bagi masyarakat Gayo, tradisi menyerahkan anak kepada tengku guru bukan sekadar seremoni tahunan.

Prosesi tersebut merupakan simbol kepercayaan terhadap lembaga pendidikan Islam sekaligus penyerahan amanah besar agar para santri tumbuh menjadi generasi Qurani yang berakhlak mulia, menguasai ilmu agama, serta kelak menjadi ulama, dai, pemimpin, dan penerang bagi umat.

| REL

BERITA TERKAIT