HARIE.ID | TAKENGON — Beberapa menit terlambat datang ke sekolah, sejumlah siswa SMPN 1 Takengon harus menerima konsekuensi, tidak diperbolehkan masuk dan diminta pulang.
Aturan itu terpampang jelas di depan gerbang sekolah. Sebuah spanduk bertuliskan, “Siswa Dilarang Masuk Jika Sudah Terlambat.” Di bawahnya tercantum waktu masuk pukul 07.30 WIB dan waktu pulang pukul 13.15 WIB.
Pantauan Harie.id, Sabtu 05 September 2026 pagi, sejumlah siswa tiba di gerbang setelah batas waktu yang ditentukan. Ada yang datang sendiri, ada pula yang diantar orang tua.
Seorang pelajar laki-laki yang datang menggunakan sepeda motor tidak banyak memberikan keterangan. Setelah dinyatakan terlambat, ia langsung memutar arah dan meninggalkan gerbang sekolah.
Dua siswi lainnya yang datang berboncengan juga mengalami hal serupa. Keduanya sempat membubuhkan nama di buku sekolah sebelum akhirnya meninggalkan lokasi.
Namun, pemandangan berbeda terlihat dari seorang siswi berseragam Pramuka. Dengan wajah berat, ia harus meninggalkan gerbang sekolah setelah tidak mendapatkan izin masuk.
Ia kemudian dibonceng orang tuanya menggunakan sepeda motor Honda Verza. Jaket yang dikenakan orang tua tersebut tampak lusuh.
Sebelum meninggalkan sekolah, sang orang tua sempat bernegosiasi dengan guru piket, berharap anaknya tetap diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar. Upaya itu tidak membuahkan hasil.
Tidak jauh dari sana, seorang siswa yang datang diantar ibunya menggunakan sepeda motor Honda Scoopy juga harus kembali ke rumah karena tiba setelah batas waktu yang ditentukan.
Sementara seorang siswi lainnya terlihat menangis tersedu di trotoar sekolah. Ia kemudian meninggalkan lokasi setelah tidak memperoleh izin untuk masuk.
Di tengah suasana itu, guru piket sempat memberikan pesan kepada salah seorang siswa yang telah duduk di atas sepeda motor bersama orang tuanya.
“Besok jangan terlambat lagi, ya.” kalimat itu disampaikan sembari mengelus pundak siswa tersebut.
Proses negosiasi antara orang tua dan pihak sekolah berlangsung sekitar pukul 07.46 hingga 07.57 WIB.
Memasuki pukul 08.00 WIB, tidak terlihat lagi aktivitas siswa yang datang untuk mengikuti pembelajaran.
Namun, di tengah ketatnya penerapan aturan tersebut, pantauan di lokasi juga menunjukkan masih terdapat guru yang datang setelah batas waktu kehadiran siswa dan baru tiba di gerbang sekolah.
Penerapan aturan tersebut sebelumnya menuai keluhan dari salah seorang orang tua siswa.
Kepada Harie.id melalui WhatsApp, Jumat 04 September 2026 malam, ia mengaku keberatan apabila siswa yang terlambat langsung diminta pulang.
Menurutnya, kondisi pagi hari cukup padat karena orang tua memiliki sejumlah aktivitas yang harus diselesaikan dalam waktu bersamaan.
Selain mengantar anak lainnya ke sekolah dasar yang berada di lokasi berbeda, ia juga harus menitipkan usaha kulinernya di salah satu toko.
“Apalagi pagi itu jalanan macet. Tapi tidak ada dispensasi, harus pulang. Seharusnya diberikan sanksi, artinya tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar,” keluhnya.
Kepala SMPN 1 Takengon, Zakaria, membenarkan, aturan tersebut memang diterapkan di sekolah.
Menurutnya, sebelumnya siswa diwajibkan sudah berada di sekolah pukul 07.20 WIB. Namun, karena masih banyak siswa yang datang terlambat, waktu tersebut kemudian disesuaikan menjadi pukul 07.30 WIB.
“Sebelumnya waktu harus di sekolah pukul 07.20 WIB. Karena banyak yang terlambat, dinaikkan 10 menit lagi,” kata Zakaria memberikan dispensasi.
Ia mengatakan, keterlambatan karena kondisi tertentu tetap dapat dipertimbangkan. Namun, secara umum aturan tersebut merupakan bagian dari penerapan disiplin dan pembentukan karakter siswa.
Zakaria menjelaskan, sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, siswa juga memiliki waktu sekitar 15 menit untuk membaca Al-Qur’an.
Karena itu, menurutnya, penetapan batas waktu kehadiran bukan keputusan yang dibuat secara tiba-tiba.
Pihak sekolah telah beberapa kali mempertimbangkan aturan tersebut dengan tujuan membangun kedisiplinan siswa.
“Penetapan waktu keterlambatan siswa itu sudah beberapa kali dipertimbangkan. Itu demi disiplin karakter pelajar SMPN 1 Takengon,” ujarnya.
Laporan | Karmiadi











