HARIE.ID | TAKENGON – Di tengah pencarian panjang sosok yang dinilai tepat memimpin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Tengah, satu nama mulai hangat diperbincangkan.
Nama itu adalah H. Wahdi MS, MA, Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Tengah yang selama ini dikenal aktif membangun tata kelola pendidikan keagamaan, memperkuat kelembagaan, dan mengedepankan komunikasi yang merangkul semua pihak.
Perbincangan itu bukan tanpa alasan. Hingga kini, kursi orang nomor satu di Disdikbud Aceh Tengah masih berstatus Pelaksana Tugas (Plt).
Usai dinahkodai Uswatuddin, dinas ini seperti “mati suri”, Plt saat itu Harun Manzhola, dilanjutkan Ruhdi, Kausarsyah, Jauhari, Sukardi hingga saat ini Salimsyah, jabatan strategis tersebut belum memiliki pejabat definitif.
Situasi ini sejalan dengan pernyataan Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, yang beberapa waktu lalu mengakui kesulitan menemukan figur yang tepat untuk memimpin sektor pendidikan.
“Kami kesulitan mencari sosok kadis pendidikan,” ujar Haili Yoga di hadapan anggota DPRK Aceh Tengah.
Pernyataan itu menjadi sinyal, Aceh Tengah membutuhkan figur yang bukan hanya memahami birokrasi, tetapi juga memiliki visi kuat dalam membangun kualitas pendidikan daerah.
Dalam dunia birokrasi, rekam jejak sering kali menjadi ukuran paling objektif untuk menilai kapasitas seseorang. Di titik inilah nama Wahdi MS memperoleh perhatian.
Sebelum dipercaya memimpin Kementerian Agama Aceh Tengah, ia pernah mengemban amanah sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bener Meriah dan Kepala Subbag Tata Usaha Kemenag Aceh Tengah.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami dinamika pemerintahan sekaligus kebutuhan dunia pendidikan dari berbagai sudut pandang.
Di bawah kepemimpinannya sebagai Kakankemenag Aceh Tengah, berbagai langkah pembenahan terus dilakukan.
Mulai dari peningkatan mutu pendidikan agama Islam, penataan organisasi dan menempatkan pejabat terkait sesuai kebutuhan institusi, hingga penguatan budaya kerja melalui perjanjian kinerja yang menekankan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan, kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi kemampuan menghadirkan perubahan yang terukur.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan merupakan salah satu institusi paling strategis dalam menentukan arah masa depan daerah. Karena itu, jabatan kepala dinas tidak cukup hanya diisi oleh seorang administrator.
Dibutuhkan sosok yang mampu menjadi pemimpin, penggerak, sekaligus pemersatu berbagai kepentingan dalam dunia pendidikan.
Banyak pihak menilai Wahdi memiliki modal tersebut. Selain berpengalaman mengelola lembaga pendidikan berbasis keagamaan, ia dikenal memiliki kemampuan komunikasi yang persuasif.
Kemampuan itu tidak hanya terbangun dengan unsur pemerintah, tetapi juga dengan tokoh masyarakat, akademisi, hingga kalangan pendidikan.
Modal inilah yang dianggap penting ketika Disdikbud Aceh Tengah membutuhkan figur yang mampu meredam berbagai persoalan dan membangun kepercayaan publik.
Di tengah beragam tantangan pendidikan saat ini, pendekatan komunikasi sering kali menjadi kunci keberhasilan sebuah kebijakan.
Ada satu aspek lain yang menjadi perhatian masyarakat, yakni identitas Wahdi sebagai putra daerah asal Kecamatan Kebayakan.
Dalam konteks Aceh Tengah, pemahaman terhadap karakter sosial, budaya, dan nilai-nilai masyarakat Gayo menjadi faktor penting dalam merumuskan kebijakan pendidikan.
Pendidikan di Aceh Tengah tidak hanya berbicara tentang angka dan administrasi. Di dalamnya terdapat upaya menjaga identitas budaya, memperkuat karakter generasi muda, serta menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di masa depan. Atas dasar cenderung putra daerah yang mengerti.
Karena itu, tidak sedikit kalangan yang berpendapat, Disdikbud Aceh Tengah akan lebih efektif dipimpin oleh figur yang memahami denyut kehidupan masyarakat Gayo dari dekat.
Kementerian Agama sendiri merupakan posisi yang bersifat dinamis. Rotasi dan mutasi merupakan hal lumrah dalam struktur organisasi berlambang ikhlas beramal ini.
Bukan tidak mungkin suatu saat Wahdi mendapatkan amanah di daerah lain apabila ada instruksi dari tingkat provinsi maupun pusat.
Karena itu, sebagian kalangan menilai momentum saat ini menjadi kesempatan bagi Aceh Tengah untuk mempertahankan sumber daya manusia terbaik yang dimilikinya.
Tentu keputusan akhir tetap berada pada mekanisme seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) yang akan dilakukan pemerintah daerah.
Namun dalam dinamika yang berkembang, nama Wahdi MS menjadi salah satu figur yang paling sering disebut ketika pembicaraan mengarah pada sosok ideal Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tengah.
Apakah ia bersedia atau tidak, itu merupakan hak pribadi dan bagian dari pengabdian yang hanya bisa dijawab oleh dirinya sendiri.
Namun satu hal yang tidak dapat dipungkiri, ketika Aceh Tengah masih mencari nahkoda pendidikan yang tepat, nama H. Wahdi MS, MA kini telah masuk dalam daftar figur yang dinilai memiliki kapasitas, pengalaman, dan kedekatan emosional dengan daerah untuk memimpin Disdikbud menuju arah yang lebih baik.
Membangun pendidikan adalah bentuk jihad peradaban. Tidak selalu dengan mengangkat senjata, tetapi dengan menghadirkan kepemimpinan yang mampu melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.
“Pak Bupati kan dari Kebayakan, pertahankan Wahdi secara Kebayakan. Ini kesempatan emas untuk Aceh Tengah,” kata salah satu pengamat pendidikan di Kabupaten Aceh Tengah, Rabu 09 Juni 2026.
| CATATAN REDAKSI











