Channel Youtube Harie.id PodcastTonton

Pertaruhkan Segalanya Demi Enang – Enang! Sang Pelopor itu Kini Telah Berpulang

Arinos
Sahrial Abadi saat podcast bersama Harie (Photo/HR)

Ia rela melepas kebun kopi miliknya demi membiayai pembukaan akses jalan Takengon-Bireuen. Kepercayaan masyarakat mengalir menjadi donasi lebih dari Rp1 miliar. Kini Senin 2 November 2026 sosok yang ikut menggerakkan perjuangan itu telah berpulang.

HARIE.ID | BENER MERIAH — Ada orang-orang yang namanya mungkin tidak tertulis pada papan proyek, tetapi jejak pengabdiannya melekat dalam ingatan masyarakat. Syahrial Abadi adalah salah satunya.

Mantan mukim yang menjadi salah satu pelopor gerakan pembukaan akses Enang-Enang secara swadaya itu kini telah meninggal dunia.

Kepergiannya menyisakan kenangan tentang pengorbanan seorang tokoh masyarakat yang pernah menggerakkan solidaritas warga ketika jalur penghubung Takengon-Bireuen terputus akibat bencana hidrometeorologi.

Namanya tidak bisa dilepas dari salah satu episode penting perjuangan masyarakat Pintu Rime Gayo setelah bencana melanda kawasan tersebut.

Ketika akses transportasi utama terputus selama berbulan-bulan, masyarakat menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar sulitnya perjalanan.

Jalur itu merupakan urat nadi kehidupan. Terputusnya akses berarti terganggunya mobilitas warga, distribusi kebutuhan pokok, aktivitas ekonomi, hingga hubungan antardaerah.

Di tengah situasi yang serba terbatas, masyarakat akhirnya mengambil langkah sendiri. Mereka bergotong royong membuka kembali akses jalan nasional yang selama sekitar tujuh bulan terputus.

Di antara orang-orang yang berada di balik gerakan tersebut, Syahrial mengambil peran penting. Ia tidak hanya mengajak masyarakat untuk bergerak, tetapi memberikan contoh melalui pengorbanan pribadi.

Salah satu keputusan paling besar yang diambilnya adalah menjual kebun kopi miliknya. Hasil penjualan itu digunakan untuk membantu membiayai kebutuhan operasional alat berat dan pembelian bahan bakar solar selama proses pembukaan akses berlangsung.

Kebun kopi bukan sekadar aset bagi masyarakat Gayo. Di dalamnya terdapat sumber penghidupan, hasil kerja bertahun-tahun, dan harapan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun, bagi Syahrial, saat itu ada kepentingan yang lebih besar yang harus diperjuangkan bersama.
Kepercayaan yang Menjelma Donasi Lebih dari Rp1 Miliar
Pengorbanan tersebut berjalan beriringan dengan gerakan pengumpulan donasi yang melibatkan masyarakat luas.

Sumbangan dikumpulkan dari rupiah demi rupiah. Tidak ada batasan besar kecilnya bantuan.

Setiap orang mengambil bagian sesuai kemampuan, dengan satu tujuan yang sama, membuka kembali jalan yang selama ini menjadi penghubung kehidupan mereka.

“Membantu tidak harus dengan uang, jika belum memiliki rejeki cukup do’akan kami,” begitu kata Syahrial Abadi saat Podcast bersama Harie di Tajuk Enang – Enang beberapa waktu lalu.

Kepercayaan masyarakat terhadap gerakan yang dipelopori Syahrial terus tumbuh. Dukungan mengalir dari berbagai kalangan hingga dana yang berhasil dihimpun mencapai lebih dari Rp1 miliar.

Besarnya donasi itu bukan hanya menunjukkan kebutuhan mendesak masyarakat terhadap akses transportasi, tetapi juga menggambarkan kepercayaan yang diberikan kepada orang-orang yang mengoordinasikan gerakan tersebut.

Di lapangan, perjuangan itu tidak dilakukan sendirian. Masyarakat bersinergi dengan unsur TNI/Polri, camat, tokoh masyarakat, serta berbagai pihak lainnya.

Gotong royong tersebut menjadi gambaran dalam situasi sulit, sekat-sekat wilayah dan kepentingan dapat dikesampingkan ketika masyarakat menghadapi persoalan yang sama.

Gerakan swadaya membuka Enang-Enang bukan dimaksudkan sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah.

Langkah itu lahir dari kondisi masyarakat yang membutuhkan akses transportasi untuk kembali menjalankan kehidupan.

Ada kegelisahan yang tidak bisa terus dibiarkan. Berbulan-bulan tanpa akses memadai membuat masyarakat harus menghadapi berbagai kesulitan, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Namun, masyarakat juga memahami, pembukaan jalan secara swadaya bukan solusi akhir.

Harapan terhadap pembangunan infrastruktur permanen tetap menjadi bagian penting dari perjuangan tersebut.

Salah satu gagasan yang diharapkan dapat diwujudkan adalah pembangunan jembatan layang atau konstruksi permanen lainnya yang mampu memberikan jaminan keselamatan bagi pengguna jalan.

Kini, sosok yang pernah ikut menggerakkan harapan itu telah berpulang.

Syahrial Abadi meninggalkan sebuah cerita tentang keberanian mengambil tanggung jawab ketika masyarakat berada dalam kesulitan.

Selamat jalan pak Syahrial, pengorbanan mu untuk Enang-Enang akan selalu menjadi bagian dari ingatan masyarakat yang pernah merasakan betapa berharganya sebuah jalan.

***REDAKSI

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan.

Tulis Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan.

Podcast Harie.id

Ketua Dewas akan Ratakan Baitul Mal Aceh Tengah, Jika? #podcast
Ketua Dewas akan Ratakan Baitul Mal Aceh Tengah, Jika? #podcast