ADVERTISEMENT

Simfoni Indah Dari Balik Keterbatasan

Di balik keterbatasan, anak-anak SLB Kebayakan Takengon membuktikan bahwa bakat dan keindahan mampu tumbuh lewat seni, tari, dan ketulusan guru yang mengajar dengan hati

*Oleh: Erly Maulida, S.Sn., Gr

Apakah mungkin mengajarkan tari kepada anak murid yang indra pendengaran nya tidak mampu menerima irama alunan melodi? Bagaimana mau mengajarkan tarian lincah, sementara untuk menggerakkan tubuhnya saja sudah sulit.

Apa tidak sia-sia mengajarkan tarian pada mereka yang tuna rungu? Musik dan nada tidak masuk ke indra pendengaran nya. Bagaimana mau mengajak anak yang lamban gerak motoriknya untuk mengikuti gerakan tari?

BACA JUGA

Kalimat sia-sia bagaikan sebilah belati yang menusuk ke relung hati bagi guru yang mengajar anak berkebutuhan khusus.

Suasana pagi yang di iringi gemericik air hujan seringkali membawa suasana syahdu, dalam aula dipenuhi dengan pantulan cahaya dari penerangan. Namun, di sudut ruang seorang guru berdiri dengan senyum yang anggun dan tak pernah putus.

Meski pun di hadapannya hanya ada kesunyian. Baginya, mengajar seni budaya di sekolah luar biasa (SLB) Kebayakan, Takengon, bukanlah tentang mengajar kesempurnaan teknik atau mencetak seniman kelas dunia.

Melainkan tentang membangun jembatan ekspresi di atas jurang keterbatasan. Bukan nada yang sumbang bagi telinga awam, mungkin yang terdengar hanyalah suara ketukan meja yang tidak beraturan atau gumaman yang tak jelas maknanya.

Namun, bagi mereka yang mendengarkan dengan hati, itu adalah melodi bakat. Dari rajutan benang hingga anyaman khas, tangan-tangan mungil itu merangkai masa depan yang mandiri. Tidak menyusahkan orang lain, minimal mampu mengurus dirinya sendiri.

Setiap karya yang mereka hasilkan adalah kejujuran tanpa filter, sebuah melodi yang tidak mencari pujian, melainkan pengakuan atas eksistensi diri.

“Jangan hanya melihat apa yang tidak bisa mereka lakukan, tapi lihatlah melodi apa yang sedang mereka mainkan. Di sanalah keajaiban itu”.

Mengajar seni kepada anak-anak berkebutuhan khusus sering dianggap mustahil oleh sebagian orang.

“Buat apa belajar menari, kalau mendengar dan bergerak saja sulit?” begitulah cibiran yang sesekali mampir di telinganya.

Namun, kami sebagai guru SLB punya jawabannya sendiri. Kami ingin anak-anak didik merasa bahwa mereka memiliki suara yang bisa di dengar dunia. Kami ingin mereka tahu bahwa keterbatasan fisik bukan berarti keterbatasan untuk menciptakan keindahan.

“Mengajar mereka itu tidak bisa pakai logika target kurikulum semata. Kita harus pakai rasa.”

Setiap pagi, guru harus memutar otak. Bagaimana menjelaskan harmoni nada kepada anak yang tidak bisa mendengar alunan musik? Bagaimana mengajarkan tempo gerak kepada mereka yang tak mendengar dan cara pandang berbeda terhadap gerak?

Dari semua itu, muncullah metode unik yang guru ciptakan tidak hanya mengandalkan teori di papan tulis. Kami menggunakan getaran instrument agar nada bisa dirasakan melalui kulit mungil peserta didik.

Menggunakan gerak tubuh yang ritmis untuk menjelaskan tempo gerak, dan tekstur cat yang tebal agar keindahan warna bisa diraba.

Panggung tanpa batas seringkali terlalu sibuk mendefinisikan “bakat” dengan standar kompetisi nasional atau panggung megah. Namun di sini, di sekolah istimewa ini, melodi bakat itu muncul dalam bentuk yang paling murni.

Saat seorang siswi tunawicara mencoba melantunkan nada, itulah melodi perjuangan yang paling merdu. Di sekolah luar biasa, setiap anak memiliki instrument kehidupannya sendiri.

Ada yang jemarinya begitu lincah menari di atas kanvas, melukiskan gradasi warna perbukitan yang luar biasa indahnya.

Ada pula yang memiliki keterbatasan rungu, mampu merasakan getaran musik dan mengubahnya menjadi gerakan tari yang memukau. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan hanyalah dinding tipis yang bisa ditembus oleh ketekunan.

Melodi bakat anak-anak SLB ini adalah asset bagi masyarakat. Mereka bukan beban, melainkan warna yang melengkapi keberagaman. Lewat bimbingan guru yang sabar dan kasih sayang orang tua yang tak bertepi, melodi ini perlahan mulai terdengar nyaring.

Bagi guru SLB, satu goresan warna yang berani atau satu gerakan irama yang selaras dari siswanya adalah sebuah kemenangan besar. Kesabaran dan lelah mereka tergantikan, ketika muridnya menunjukan perkembangan perubahan.

Tuhan memberikan mereka keterbatasan. Bukan tidak mampu mendengar lantas mereka tidak bisa menari mengikuti alunan melodi. Tidak mampu berbicara bukan berarti mereka tidak mampu menyanyi, alunan nada yang keluar dari mulutnya justru akan indah bila dinikmati.

Sudah saatnya kita memberikan panggung yang lebih luas kepada mereka.

 Penulis adalah Guru SLB Kebayakan, Takengon.

BERITA TERKAIT