HARIE.ID | TAKENGON – Anggota DPRK Aceh Tengah, Ikhsanuddin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 sebagai momentum memperkuat kepedulian dan aksi dalam menjaga lingkungan serta menghadapi ancaman perubahan iklim.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Seduni diperingati Jumat 5 Juni 2026, tahun ini mengusung tema global “Climate Action” atau Aksi Iklim yang berpusat di Azerbaijan.
Sementara di Indonesia, tema nasional yang diangkat adalah “Saatnya Bekerja untuk Iklim” dengan tagar resmi #NowForClimate.
Menurut Ikhsanuddin, tema tersebut sangat relevan dengan kondisi Aceh Tengah yang pada akhir tahun 2025 lalu mengalami bencana hidrometeorologi yang mengakibatkan kerusakan di berbagai wilayah, mulai dari banjir, longsor, kerusakan infrastruktur, hingga terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat.
“Peringatan ini alarm bagi kita semua bahwa perubahan iklim adalah ancaman nyata yang dampaknya telah kita rasakan sendiri di Aceh Tengah,” ujar Ikhsanuddin.
Ia mengatakan, bencana hidrometeorologi yang porak-poranda melanda Aceh Tengah pada akhir tahun 2025 harus menjadi pelajaran berharga agar seluruh pihak lebih serius dalam menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan upaya mitigasi bencana.
“Kita masih ingat bagaimana bencana hidrometeorologi menghantam Aceh Tengah. Banyak masyarakat yang terdampak, rumah-rumah rusak, lahan pertanian terganggu, dan aktivitas ekonomi terhenti. Menjaga lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” katanya.
Ikhsanuddin menilai, perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, meningkatnya intensitas hujan, serta ancaman kerusakan ekosistem harus direspons dengan langkah nyata.
Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan generasi muda harus bergerak bersama untuk mengurangi risiko bencana dan memperkuat ketahanan lingkungan.
“Tema Climate Action mengajarkan kepada kita bahwa aksi kecil yang dilakukan secara bersama-sama akan membawa perubahan besar. Mulai dari menjaga hutan, mengelola sampah dengan baik, mencegah pencemaran sungai, hingga mendukung pembangunan yang berwawasan lingkungan,” ujarnya.
Ia juga mendukung langkah pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup yang menjadikan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai momentum untuk mengatasi Triple Planetary Crisis, yakni perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Menurutnya, Aceh Tengah yang dikenal dengan kekayaan alamnya, seperti Danau Lut Tawar, kawasan hutan, serta keanekaragaman hayati yang melimpah, memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan generasi mendatang.
“Alam Aceh Tengah adalah warisan yang harus kita jaga bersama. Jangan sampai bencana yang kita alami berulang karena kelalaian kita dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Sudah saatnya kita bekerja untuk iklim, bekerja untuk bumi, dan bekerja untuk masa depan anak cucu kita,” katanya.
Ikhsanuddin berharap peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dapat menjadi momentum kebangkitan kesadaran ekologis masyarakat sekaligus memperkuat sinergi seluruh pihak dalam menjaga lingkungan.
“Bencana yang kita alami adalah ujian, tetapi juga pelajaran. Mari kita bangkit dengan kesadaran baru bahwa menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan. Saatnya bekerja untuk iklim, saatnya bergerak bersama demi Aceh Tengah yang lebih tangguh dan lestari,” tutup Ikhsanuddin.
Laporan | Karmiadi











