HARIE.ID | REDELONG – Kunjungan lapangan yang dilakukan pihak Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh bersama Pemerintah Kabupaten Bener Meriah dan perwakilan masyarakat ke ruas jalan Enang-Enang justru memicu gelombang kritik di media sosial.
Dalam unggahan resmi Instagram BPJN Aceh terkait peninjauan lokasi, Jumat 29 Mei 2026, lembaga tersebut menyampaikan bahwa kondisi ruas Enang-Enang masih mengalami kerusakan cukup kompleks akibat bencana longsor.
Selain sejumlah titik longsoran, kerusakan juga terjadi pada bagian jembatan sehingga akses jalan belum dapat digunakan secara normal oleh masyarakat.
BPJN Aceh menjelaskan, berdasarkan hasil kajian teknis, kawasan tersebut masih memiliki tingkat risiko tinggi karena kondisi tanah yang labil serta kerusakan infrastruktur yang tergolong berat.
Mereka juga mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat yang selama ini berupaya membuka akses jalan secara mandiri.
Namun, demi alasan keselamatan, masyarakat tetap diimbau menggunakan jalur alternatif hingga penanganan lanjutan dapat dilakukan.
“BPJN Aceh terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait guna menyiapkan langkah penanganan yang tepat, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.
Namun, alih-alih mendapat respons positif, unggahan itu justru dibanjiri kritik tajam dari warganet. Hingga Selasa 02 Juni 2026, postingan tersebut tercatat telah menerima hampir seribu komentar, dengan mayoritas berisi keluhan dan kekecewaan masyarakat terhadap penanganan akses jalan yang dinilai lamban.
Salah satu akun bernama @hardy_mja menyoroti kondisi jalur alternatif yang menurutnya juga mengalami kerusakan parah.
“Jalan alternatif aja ancur-ancuran, coba bapak pindah KK ke Bener Meriah sebentar saja, biar bapak rasa jalan alternatif yang bapak maksud itu, dari kemarin kemana aja pak.”
Komentar bernada sindiran juga datang dari akun @r_agstiaanaa19.
“Ngapain sih repot-repot poto-poto di jalan, lanjut tidur aja pak.”
Sementara akun @_rahmahd73 menilai kehadiran tim BPJN baru dilakukan setelah persoalan tersebut ramai menjadi perhatian publik.
“Udah viral dikerjakan masyarakat baru turun ke lapangan.”
Kekecewaan masyarakat tidak terlepas dari fakta, saat kondisi jalan masih terputus, warga setempat lebih dahulu melakukan upaya pembukaan akses secara swadaya.
Bahkan, masyarakat membuka donasi secara terbuka untuk mendukung kegiatan gotong royong tersebut.
Aksi solidaritas warga itu mendapat perhatian luas dan menjadi perbincangan di media sosial.
Banyak netizen menilai inisiatif masyarakat muncul karena kebutuhan mendesak terhadap akses transportasi yang menjadi urat nadi aktivitas ekonomi dan sosial warga.
Situasi inilah yang kemudian membuat sebagian masyarakat mempertanyakan waktu serta efektivitas respons pemerintah dalam menangani kerusakan infrastruktur di kawasan tersebut.
Laporan | Karmiadi











